REVIEW
TEORI SOSIOLOGI MODERN (TSM)
Ali
Syari’ati: Revolusi sebagai Sosiologi Konflik
Oleh
Ahmad
Jaenudin
Sebagai bagian penting masyarakat, konflik jelas
memiliki keberadaan (existenci) sendiri dan ditemukan di manapun,
kapanpun dan mewarnai hampir setiap lini kehidupan. Seperti konflik antar
individual, tetapi bisa ditafsirkan termasuk konflik antar kelompok terjadi
disebabkan banyak faktor, seperti persoalan ideologis, ekonomi, politik, etnis
dan lain-lain. Faktor penyebab konflik ini bisa muncul sendiri, tidak jarang
muncul secara bersama-sama (Susilo, 2008, hal.
385). Konflik
menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari dengan alasan, pertama: ketetapan ini
bisa kita lihat dalam istilah-istilah yang difirmankan Tuhan, seperti kaum
kafir, kaum munafik dan kaum zalim. Ketiga konsep tersebut, jelas
mengisyarakatkan realitas konflik ketimbang keseimbangan (equibilibirium).
Dari ketiganya pula (dalam Susilo, 2008,
hal. 385), memposisikan
baik antar individu maupun antar kelompok sebagai berlawanan, baik dalam
kepentingan maupun posisi masing-masing. Kaum muslimin atau kelompok orang
mukmin berhadapan dengan kaum munafik, kaum kafir, maupun kaum zalim. Kedua:
sekalipun Rosulullah Muhammad sudah diutus untuk memperbaiki akhlak kaum
musliminm akan tetapi ahirnya sejarah mencatat bahwa masyarakat muslim pasca Rosulullah masih masih diwarnai
konflik-konflik, seperti yang terjadi pada khalifah Umar bin Khattab, khalifah ustman, dan Ali bin Abi
Thalib. Hal terburuk dalam sejarah islam adalah ketika terjadi pertumpahan
darah antara keturunan Dinasti Umayyah dengan Dinasti Abbasiyah yang menorehkan
kisah pilu, yakni tragedi Karbala yang selalu tidak lepas dari ingatan
orang-orang Islam Syi’ah.
Terkait paparan di atas, sosiologi Syari’ati (dalam Susilo, 2008, hal. 386) menemukan relevansinya. Karena ia muncul sebagai sosiologi konflik, yang
menariknya epistemologi Syari’ati dibangun dari nilai-nilai agama yang tidak
konserfatif. Nilai-nilai agama yang tidak membenarkan atas struktur yang ada secara turun-temurun,
tetapi agama yang “protes”.
Sekilas
tentang Syari’ati VS Sosiologi Barat
Memang kalau sepak terjang Syari’ati (dalam Susilo, 2008,
hal. 388). dibandingkan
tradisi sosiologi barat, terutama positivisme, jelas tidak sama. Itulah yang
mungkin menjadi kesangsian beberapa penulis, apakah benar kalau Syari’ati itu
seorang sosiolog. Ia memang bukan orang yang mencari-cari konsep, kemudian
menemukan teori-teori ilmiah. Tetapi ia banyak belajar di lapangan, atau dalam
bahasa Syari’ati bersama-sama massa. Karena itu, tidak jarang dalam beberapa
tulisannya terlihat lebih sebagai seorang ideolog, ketimbang sosiolog ilmiah. Bisa diringkas terkait Syariati (dalam Susilo, 2008,
hal. 389), bahwa
sosiologi Ali Syariati memiliki tiga ciri penting, yakni pertama: tertarik pada
hubungan dialektis antara teori dan praktik, kedua: ide sebagai kekuatan
sosial, ketiga: kesadaran eksistensi kemanusiaan.
Sikap Pada
Ilmu Pengetahuan
Tradisi sosiologi Syari’ati (Susilo, 2008, hal.
391) yang lebih
dekat kepada perspektif konflik, jelas tidak sama dengan tradisi positivisme
yang sibuk dengan menemukan hukum-hukum universal dalam kehidupan sosial. Akan
tetapi, Syari’ati (dalam Susilo, 2008,
hal. 392) mempraktikkan
sosiologi praksis. Ia menemukan hukum-hukum sosiologis dari lapangan, kemudian
ia propagandakan terus-menerus hingga sampai menciptakan perubahan yang
dikehendaki.
Demi menjelaskan tentang ilmu, syariati (dalam Susilo, 2008,
hal. 392) membaginya
dalam dua teori dasar, yakni sebagai berikut:
a)
Ilmu melayani sistem keyakinan. Jenis ilmu hanya
ini hanya sekedar alat untuk membenarkan pandangan-pandangan yang telah terpola
sebelumnya.
b)
Ilmu pengetahuan yang lepas dari keyakinan apa pun
demi kepentingan ilmu semata. Dalam konteks ini, ilmu menjadi tidak efektif dan
tidak berharga. Atas nama objektivitas, ilmuwan tidak lagi melayani orang
banyak. Untuk tujun-tujuan praktis, ilmu diseterilkan dari kepentingan dan
hanya dimanfaatkan oleh penguasa, orang kaya, dan atau penipu.
Kemudian, Syari’ati (dalam Susilo, 2008,
hal. 398) menambahkan
yang ketiga. Yakni dalam melakukan riset para ilmuan haruslah bebas dari keyakinan-keyakinan
tertentu dan setelah mencapai hasil-hasil riset, mereka teriakat olehnya.
Mereka harus terikat oleh kebenaran yang diyakini atau mereka mesti membuktikan
pandangan-pandangan itu.
Watak Sosiologi
Syari’ati
Jarang sekali Ali Syari’ati (dalam Susilo, 2008,
hal. 393) menyebut peran akademisi, ilmua, atau filosof.
Menurutnya, dalam konteks perubahan di masyarakat, peran yang lebih penting
hanya bisa dimainkan cendekiawan. Menurutnya sekalipun ilmuan menuagkan banyak
renungan dalam pekerjaan ilmiah, tetapi mereka tidak memiliki ideologi yang
menggerakkan. Cendekiawan berbeda dengan keduanya karena ia memiliki ideologi
yang diyakini dan selalu diperjuangkannya. Masyrakat lebih membutuhkan
cendekiawan yang bisa meneriakkan perubahan-perubahan di masyarakat.
Mengkritik Dan
Menggunakan Analisis Marx
Pembacaan Syari’ati atas Marx (dalam Susilo, 2008,
hal. 398) bisa
dikatakan agak kontradiktif. Pada satu sisi lain ia kritik kelemahan-kelemahan
teori Marx, tetapi pada kesempatan lain ia gunakan analisa Marx untuk
menganalisis masyarakat. Masyarakat komunis yang terbentuk sebagai
penjawantahan marxis dikritik habis-habisan, sedangkan pada sisi lain cara
berpikir dialektika Marx, ia sempurnakan dengan menggunakan terma-terma
Al-Quran. Negara komunis yang berhasil melakukan revolusi, ternyata dalam
praktik politiknya, justru tidak sama dengan nilai-nilai yang diperjuangkan
Marx. Kondisi ini akan menjadi satu kelemahan tesis Marx yang tidak bisa
dimanfaatkan.
Menariknya, sekalipun Syari’ati mengkritik
dialektika Marx (dalam Susilo, 2008,
hal. 399), tetapi
logika pertentangan, kontradiksi, terungkap dalam tulisan-tulisan Syari’ati.
Hanya saja untuk menjelaskan logika perubahan, ia tidak menggunakan terma
marxis dengan istilah-istilah kelas yang mendasarkan atas perbedaan faktor
produksi, tetapi Syari’ati lebih memiliki konsep Habil dan Qabil.
Kelas Qabil (dalam Susilo, 2008,
hal. 400) adalah
pengatur atau raja, pemilik dan aristokrasi. Dalam masyarakat yang primitip dan
perkembangan sosial terbelakang, kutub ini diwakili oleh individu perseorangan,
kekuatan tunggal yang menjalankan kekuatan dan menyerap semua tiga pengusa
(raja, pemilik dan aristokrat) dalam dirinya. Tetapi pada tahapan berikutnya,
dalam perkembangan dan evolusi sistem sistem sosial, peradaban, dan budaya,
serta pertumbuhan dimensi yang berbeda kehidupan sosial dan struktur kelasnya,
kutub ini mendapatkan tiga dimensi yang berbeda dan menampilkan dirinya di
bawah tiga aspek yang berbeda, yakni pertama: perwujudan politik-kekuasaan,
kedua: perwujudan ekonomi-kekayaan, dan ketiga: perwujudan agama-pertapaan.
Kemudian kelas Habil (dalam Susilo, 2008,
hal. 401) merupakan
aturan sama dengan Tuhan-manusia. Mengonfrontasikan kelas yang berbeda antara
raja-pemilik-aristokrasi adalah kelas manusia, al-nas. Dua kelas itu
berlawanan dengan dan berkofrontasi satu sama lain sepanjang sejarah. Dalam masyarakat kelas,
Tuhan berdiri sama dengan manusia. Sedangkan dalam banyak ayat persoalan
sosial, disebutkan sebenarnya manusia dengan Tuhan itu sinonim. Jika dikatakan
agama milik Tuhan, ini sebenarnya berarti bahwa struktur seleuruhnya dan isi
agama itu milik manusia. Agama tidak hanya monopoli lembaga tertentu atau orang
tertentu seperti gereja atau pendeta.
Daftar
Pustaka
Susilo, R.
K. D. (2008). 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biografi Para Peletak Sosiologi
Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.