PARADIGMA SOSIAL DALAM FILSAFAT SOSIAL
Oleh
Ahmad
Jaenudin
Hakikat
Paradigma
Paradigma pada hakikatnya (dalam Moleong, 2002,
hal. 30) merupakan
wahana untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha
untuk mengejar kebenaran dilakukan para filsuf, peneliti, maupun para praktisi
melalui model-model tertentu. Model tersebut biasanya dikenal dengan paradigma.
Pengertian Paradigma
Paradigma, menurut Bodgan dan Biklen (dalam Moleong, 2002,
hal. 30) adalah
kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau
proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian.
Macam-macam
Paradigma
Ada macam-macam paradigma (dalam Moleong, 2002,
hal. 30), tetapi
yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientifik paradigm (paradigma
keilmuan, namun untuk memudahkannya penulis menerjermahkan secara harfiah sebagai
paradigma ilmiah) dan naturalistic paradigm atau paradigma alamiah.
Sumber Pandangan
Paradigma
Paradigma ilmiah (dalam Moleong, 2002,
hal. 30) bersumber
dari pandangan positivisme sedangkan paradigma alamiah bersumber dari pandangan
fenomenologis sebagai telah dikemukakan dalam uraian di muka. Riwayat singkat
kedua paradigma tersebut dikemukakan
oleh Bodgan dan Taylor (dalam Moleong, 2002,
hal. 31) yang dapat
diikuti dalam uraian berikut:
a) Positivisme
berakar pada pandangan teoritisi Auguste Comte dan Emile Durkheim pada abad
ke-19 dan awal ke 20. Paradigma positivisme mencari fakta dan penyebab fenomena
sosial, dan kurang memepertimbangkan keadaan negatif individu. Durkheim
mengarahkan kepada para ahli ilmu pengetahuan sosial untuk mempertimbangkan
“fakta sosial” atau “fenomena sosial” sebagai “sesuatu” yang memberikan
pengaruh tertentu terhadap perilaku manusia.
b) Paradigma alamiah
bersumber mula-mula dari pandangan Max Weber yang diteruskan oleh Irwin
Deutcher, dan yang lebih dikenal dengan pandangan fenomenologis. Fenomenologis
berusaha memahami perilaku manusia dari segi kerangka berpikir maupun
bertindak orang-orang itu sendiri.
Aksioma
dari Lincolin dan Guba
Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap ada
baiknya dikemukakan lima aksioma dari Lincolin dan Guba (dalam Moleong, 2002,
hal. 31-32) yang
mempertentangkan kedua paradigma tersebut. Berikut pemaraparan dari Ikhtisar
aksioma yang ada, yakni antara lain:
Aksioma 1: Hakikat kenyataan (ontologi)
a) Menurut positivisme: terdapat
kenyataan tunggal, nyata, terbagi-bagi kedalam variabel bebas, dan proses yang
dapat diteliti secara terpisah dari yang lainnya; inkuiri ini dapat
dikonvergensikan sehingga kenyataan pada akhirnya dapat dikontrol dan
diramalkan.
b) Menurut alamiah: terdapat
kenyataan yang terbentuk secara ganda yang hanya dapat diteliti secara
holistik; inkuiri terdapat kenyataan ganda ini mau tidak mau akan berdivergensi
(setiap inkuiri tidak menimbulkan lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban)
sehingga pengontrolan dan peramalan tidak dikehendaki, hasil dapat dicapai
walaupun dalam beberapa tingkatan pengertian (verstehen)
Aksioma 2: Hubungan antara pencari tahu dan yang
tahu
a) Menurut positivisme: pencari
tahu dan objek inkuiri adalah bebas; pencari tahu dan yang tahu membentuk
dualisme yang disktrik.
b) Menurut alamiah: pencari
tahu dan objek inkuiri berinteraksi sehingga saling mempengaruhi satu dengan
lainnya; pencari tahu dan yang tahu tidak dapat dipisahkan.
Aksioma 3: Kemungkinan menggenaralisasi
a) Menurut positivisme: tujuan
inkuiri ialah mengembangkan tubuh pengetahuan yang nomotetik dalam bentuk
generalisasi, yaitu pernyataan benar yang bebas dari waktu dan konteks (jadi
hal itu akan tetap di manapun dan kapanpun).
b) Menurut alamiah: tujuan
inkuiri ialah mengembangkan tubuh pengetahuan yang idiografik dalam bentuk
hipotesis kerja yang memberi gambaran tentang kasus perseorangan.
Aksioma 4: Kemungkinan hubungan kausalitas
a) Menurut positivisme: setiap
tindakan dapat diterangkan sebagai hasil atau akibat dari suatu sebab
sesungguhnya yang mendahului akibat tersebut secara sementara (atau kemungkinan
terjadi bersama-sama dengan hal itu).
b) Menurut alamiah: seluruh
kebulatan keadaan saling mempertajam secara simultan sehingga tidak mungkin
membedakan penyebab dari akibat.
Aksioma 5: Peranan nilai dan Inkuiri (aksiologi)
a)
Menurut
positivisme: inkuiri adalah bebas nilai dan dapat dijamin
demikian oleh kebaikan pelaksanaan metode objektif.
b)
Menurut
alamiah: inkuiri terikat oleh nilai.
Pertentangan
Paradigma Ilmiah dan Alamiah
Uraian tentang aksioma di atas mempertentangkan
paradigma ilmiah dan paradigma alamiah. Atas uraian tersebut paradigma alamiah
dapat dipahami hakikatnya melalui asumsi-asumsi dasarnya oleh Guba dan Lincolin
(dalam Moleong, 2002,
hal. 33) yakni
sebagai berikut:
1. Asumsi
tentang kenyataan
Fokus
paradigma alamiah terletak pada kenyataan ganda yang dapat diumpamakan sebagai
susunan lapisan kulit bawang yang saling membantu satu dengan lainnya. Setiap
lapisan menyediakan perspektif kenyataan yang berbeda dan tidak ada lapisan
yang dapat berkonvergensi kedalam suatu bentuk saja, yaitu bentuk “kebenaran”,
yaitu berdivergensi berbagai bentuk, yaitu “kebenaran ganda”.
2. Asumsi
tentang peneliti dan subjek
Paradigma
alamiah berasumsi bahwa fenomena bercirikan interaktivitas. Walaupun usaha
penjajagan dapat mengurangi interaktivitas sampai ke minimun, sejumlah besar
kemungkinan akan tetap tersisa. Pendekatan yang baik memerlukan pengertian
tentang kemungkinan pengaruh terhadap interaktivitas, dan dengan demikian perlu
memperhitungkannya.
3. Asumsi
tentang hakikat pernyataan tentang “kebenaran”:
Peneliti
alamiah cenderung mengelak dari adanya generalisasi dan menyetujui “deskripsi
tebal” dan “hipotesis kerja”. Perbedaan dan bukan kesamaan, yang memberi ciri
terhadap konteks yang berbeda.
Jadi
kesimpulannya berdasarkan (dalam Moleong, 2002,
hal. 34), jika
seseorang mendeskripsikan atau menafsirkan suatu situasi dan ingin mengetahui
serta ingin mencari tahu apakah hal itu berlaku pada situasi kedua, maka
peneliti perlu memperoleh sebanyak mungkin informasi tentang keduanya (yaitu
uraian tebal) guna menentukan apakah terdapat dasar yang cukup kuat untuk
mengadakan pengalihan. Selanjutnya fokus inkuiri alamiah lebih memberi tekanan
pada perbedaan yang lebih besar dari pada persamaan. Perbedaan kecilpun
dirasakan jauh lebih penting dari pada persamaan yang cukup besar. Dengan
demikian, inkuiri alamiah mengacu kepada dasar pengetahuan idiografik, yaitu
yang mengarah pada pemahaman peristiwa atau kasus-kasus tertentu. Paradigma ilmiah
mengacu pada dasar pengetahuan nomotetik, yaitu yang mengacu pada
pengembangan hukum-hukum umum.
Daftar
Pustaka
Moleong, L. J.
(2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar