Total Tayangan Halaman

Kamis, 07 September 2017

PARADIGMA SOSIAL DAN FILSAFAT SOSIAL


PARADIGMA SOSIAL DALAM FILSAFAT SOSIAL

Oleh
Ahmad Jaenudin



Hakikat Paradigma
Paradigma pada hakikatnya (dalam Moleong, 2002, hal. 30) merupakan wahana untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mengejar kebenaran dilakukan para filsuf, peneliti, maupun para praktisi melalui model-model tertentu. Model tersebut biasanya dikenal dengan paradigma.

Pengertian Paradigma
Paradigma, menurut Bodgan dan Biklen (dalam Moleong, 2002, hal. 30) adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian.

Macam-macam Paradigma
Ada macam-macam paradigma (dalam Moleong, 2002, hal. 30), tetapi yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah scientifik paradigm (paradigma keilmuan, namun untuk memudahkannya penulis menerjermahkan secara harfiah sebagai paradigma ilmiah) dan naturalistic paradigm atau paradigma alamiah.

Sumber Pandangan Paradigma
Paradigma ilmiah (dalam Moleong, 2002, hal. 30) bersumber dari pandangan positivisme sedangkan paradigma alamiah bersumber dari pandangan fenomenologis sebagai telah dikemukakan dalam uraian di muka. Riwayat singkat kedua paradigma  tersebut dikemukakan oleh Bodgan dan Taylor (dalam Moleong, 2002, hal. 31) yang dapat diikuti dalam uraian berikut:
a)     Positivisme berakar pada pandangan teoritisi Auguste Comte dan Emile Durkheim pada abad ke-19 dan awal ke 20. Paradigma positivisme mencari fakta dan penyebab fenomena sosial, dan kurang memepertimbangkan keadaan negatif individu. Durkheim mengarahkan kepada para ahli ilmu pengetahuan sosial untuk mempertimbangkan “fakta sosial” atau “fenomena sosial” sebagai “sesuatu” yang memberikan pengaruh tertentu terhadap perilaku manusia.
b)     Paradigma alamiah bersumber mula-mula dari pandangan Max Weber yang diteruskan oleh Irwin Deutcher, dan yang lebih dikenal dengan pandangan fenomenologis. Fenomenologis berusaha memahami perilaku manusia dari segi kerangka berpikir maupun bertindak orang-orang itu sendiri.

Aksioma dari Lincolin dan Guba
Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap ada baiknya dikemukakan lima aksioma dari Lincolin dan Guba (dalam Moleong, 2002, hal. 31-32) yang mempertentangkan kedua paradigma tersebut. Berikut pemaraparan dari Ikhtisar aksioma yang ada, yakni antara lain:
Aksioma 1: Hakikat kenyataan (ontologi)
a)     Menurut positivisme: terdapat kenyataan tunggal, nyata, terbagi-bagi kedalam variabel bebas, dan proses yang dapat diteliti secara terpisah dari yang lainnya; inkuiri ini dapat dikonvergensikan sehingga kenyataan pada akhirnya dapat dikontrol dan diramalkan.
b)     Menurut alamiah: terdapat kenyataan yang terbentuk secara ganda yang hanya dapat diteliti secara holistik; inkuiri terdapat kenyataan ganda ini mau tidak mau akan berdivergensi (setiap inkuiri tidak menimbulkan lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban) sehingga pengontrolan dan peramalan tidak dikehendaki, hasil dapat dicapai walaupun dalam beberapa tingkatan pengertian (verstehen)

Aksioma 2: Hubungan antara pencari tahu dan yang tahu
a)     Menurut positivisme: pencari tahu dan objek inkuiri adalah bebas; pencari tahu dan yang tahu membentuk dualisme yang disktrik.
b)     Menurut alamiah: pencari tahu dan objek inkuiri berinteraksi sehingga saling mempengaruhi satu dengan lainnya; pencari tahu dan yang tahu tidak dapat dipisahkan.

Aksioma 3: Kemungkinan menggenaralisasi
a)     Menurut positivisme: tujuan inkuiri ialah mengembangkan tubuh pengetahuan yang nomotetik dalam bentuk generalisasi, yaitu pernyataan benar yang bebas dari waktu dan konteks (jadi hal itu akan tetap di manapun dan kapanpun).
b)     Menurut alamiah: tujuan inkuiri ialah mengembangkan tubuh pengetahuan yang idiografik dalam bentuk hipotesis kerja yang memberi gambaran tentang kasus perseorangan.

Aksioma 4: Kemungkinan hubungan kausalitas
a)     Menurut positivisme: setiap tindakan dapat diterangkan sebagai hasil atau akibat dari suatu sebab sesungguhnya yang mendahului akibat tersebut secara sementara (atau kemungkinan terjadi bersama-sama dengan hal itu).
b)     Menurut alamiah: seluruh kebulatan keadaan saling mempertajam secara simultan sehingga tidak mungkin membedakan penyebab dari akibat.

Aksioma 5: Peranan nilai dan Inkuiri (aksiologi)
a)     Menurut positivisme: inkuiri adalah bebas nilai dan dapat dijamin demikian oleh kebaikan pelaksanaan metode objektif.
b)     Menurut alamiah: inkuiri terikat oleh nilai.

Pertentangan Paradigma Ilmiah dan Alamiah
Uraian tentang aksioma di atas mempertentangkan paradigma ilmiah dan paradigma alamiah. Atas uraian tersebut paradigma alamiah dapat dipahami hakikatnya melalui asumsi-asumsi dasarnya oleh Guba dan Lincolin (dalam Moleong, 2002, hal. 33) yakni sebagai berikut:
1.      Asumsi tentang kenyataan
Fokus paradigma alamiah terletak pada kenyataan ganda yang dapat diumpamakan sebagai susunan lapisan kulit bawang yang saling membantu satu dengan lainnya. Setiap lapisan menyediakan perspektif kenyataan yang berbeda dan tidak ada lapisan yang dapat berkonvergensi kedalam suatu bentuk saja, yaitu bentuk “kebenaran”, yaitu berdivergensi berbagai bentuk, yaitu “kebenaran ganda”.
2.      Asumsi tentang peneliti dan subjek
Paradigma alamiah berasumsi bahwa fenomena bercirikan interaktivitas. Walaupun usaha penjajagan dapat mengurangi interaktivitas sampai ke minimun, sejumlah besar kemungkinan akan tetap tersisa. Pendekatan yang baik memerlukan pengertian tentang kemungkinan pengaruh terhadap interaktivitas, dan dengan demikian perlu memperhitungkannya.
3.      Asumsi tentang hakikat pernyataan tentang “kebenaran”:
Peneliti alamiah cenderung mengelak dari adanya generalisasi dan menyetujui “deskripsi tebal” dan “hipotesis kerja”. Perbedaan dan bukan kesamaan, yang memberi ciri terhadap konteks yang berbeda.

Jadi kesimpulannya berdasarkan (dalam Moleong, 2002, hal. 34), jika seseorang mendeskripsikan atau menafsirkan suatu situasi dan ingin mengetahui serta ingin mencari tahu apakah hal itu berlaku pada situasi kedua, maka peneliti perlu memperoleh sebanyak mungkin informasi tentang keduanya (yaitu uraian tebal) guna menentukan apakah terdapat dasar yang cukup kuat untuk mengadakan pengalihan. Selanjutnya fokus inkuiri alamiah lebih memberi tekanan pada perbedaan yang lebih besar dari pada persamaan. Perbedaan kecilpun dirasakan jauh lebih penting dari pada persamaan yang cukup besar. Dengan demikian, inkuiri alamiah mengacu kepada dasar pengetahuan idiografik, yaitu yang mengarah pada pemahaman peristiwa atau kasus-kasus tertentu. Paradigma ilmiah mengacu pada dasar pengetahuan nomotetik, yaitu yang mengacu pada pengembangan hukum-hukum umum.

Daftar Pustaka

Moleong, L. J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI