REVIEW TEORI SOSIOLOGI MODERN (TSM)
ANTHONNY GIDDENS DAN TEORI STRUKTURASI
Oleh :
Ahmad Jaenudin
Memahami teori Anthonny Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 411), baik secara individu maupun dari sisi masyarakat. Hal ini tampak dari
yang dinyatakannya sebagai teori strukturasi, yakni : “Bidang utama studi
ilmu-ilmu sosial, menurut teori strukturasi, bukan juga keberadaan bentuk
totalitas masyarakat, tetapi praktik sosial teratur yang melewati ruang dan
waktu. Struktur yaitu apa yang memberi
bentuk pada kehidupan sosial, tetapi bukan bentuk itu sendiri. Struktur
memiliki keberadaan hanya dalam dan lewat kegiatan-kegiatan agen manusia”.
Gagasan Giddens yang cukup terkenal terkait dengan
teori ini, Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 413) menyebut individu dengan istilah human agent. Bisa disimpulkan yang
menjadi dua kajian (subject matter) sosiologinya yakni sebagai berikut:
a) Masyarakat bukan realitas objektif yang begitu saja
ada, tetapi dibentuk oleh tindakan-tindakan anggota.
b) Tindakan membentuk masyarakat jelas-jelas
penampilan yang berkeahlian.
Kemudian, tidak sama dengan Peter L. Berger (dalam Susilo, 2008, hal. 413) tentang man (individu) dan society (masyarakat), Giddens
menjelaskan masyarakat dengan konsep agen dan struktur. Makna agen sama dengan
individu, tetapi lebih menunjuk pada watak individu aktif. Jelas ini membedakan
dengan sosiologi deterministik, dan aktor di sini diyakini memiliki lebih dari
satu pilihan, dan memiliki kemampuan melihat banyak peluang untuk menciptakan
pertentangan.
Agen atau aktor yang digunakan Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 413), secara bertukar memiliki aspek inheren tentang apa yang mereka
lakukan dan kapasitas untuk memahami apa yang mereka lakukan sambil mereka
melakukan sesuatu. Kata Giddens, setiap manusia merupakan agen yang bertujuan
karena sebagai individu, ia memiliki dua kecenderungan, yakni memiliki
alasan-alasan untuk tindakan-tindakannya dan kemudian mengelaborasi
alasan-alasan ini secara terus menerus atau berulang-ulang, individu juga
melakukan tindakan sebagai bertujuan, atau bermotif. Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 415) menyatakan bahwa struktur dan agen adalah dualitas, yakni konsepsi
tentang struktur sosial, baik sebagai medium maupun merupakan hasil dari
tindakan sosial yang dilakukan agen. Bisa dikatakan bahwa struktur terjadi
karena ada agen, demikian pula sebaliknya.
Batasan Agensi Manusia
Beberapa batasan pada agensi manusia yang
disebutkan (dalam Susilo, 2008, hal. 416-417) yakni sebagai berikut:
a) Agensi manusia menekankan hubungan antara aktor dan
kekuasaan. Tindakan bergantung pada kemampuan individu untuk membuat sebuah
perbedaan dari kondisi peristiwa atau tingkatan-tingkatan kejadian sebelumnya.
b) Sebagai aliran teori sosial terkemuka tidak
mengenal perbedaan, utamanya berhubungan dengan objektivisme dan struktural. Mereka
menyatakan bahwa kekangan beroperasi seperti kekuatan di alam, seolah-olah
‘tidak memiliki pilihan’ yang sama dengan yang digerakkan tanpa perlawanan dan
tidak mampu dipahami oleh tekanan-tekanan mekanis.
c) Aktor tidak bebas untuk memilih bagaimana membentuk
dunia sosial, tetapi dibatasi oleh pengekangan posisi historis yang mereka
tidak pilih. Baik tindakan aktor maupun struktur akan melibatkan tiga aspek,
yakni makna, norma, dan kekuasaan.
Arti Penting dan Pengertian Struktur
Untuk melengkapi penjelasan tentang agen, Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 417) menjelaskan pula tentang struktur. Ada beberapa hal yang terkait
dengan struktur, yakni sebagai berikut:
a) Struktur merupakan sifat-sifat terstruktur yang
mengikat ruang dan waktu dalam sistem sosial. Sifat-sifat ini menjadi praktik
sosial yang sama yang terlihat berlangsung melebihi tentang ruang-waktu dan
meminjamkan kepadanya dalam bentuk sistemik.
b) Struktur merupakan keteraturan yang sebenarnya dari
hubungan transformatif, yang berarti sistem sosial karena praktik-praktik
sosial yang terproduksi tidak memiliki struktur, tetapi lebih menunjukkan
sifat-sifat struktural dan keberadaan struktural itu sebagai kehadiran ruang
dan waktu, hanya dalam penggambaran contoh-contoh seperti pada praktik-praktik
sosial dan sebagai memori yang menemukan arah pada perilaku agen manusia yang
dapat dikenali.
Sifat-sifat struktural sebagai organisasi secara
hierarkis dalam kerangka pengembangan ruang waktu dari praktik-praktik yang
mereka atur secara-berulang-ulang. Sifat struktural yang sangat dalam dan
melekat berhubungan secara tidak langsung dengan reproduksi totalitas
masyarakat. Giddens menyebutnya sebagai prinsip-prinsip struktural. Praktik-praktik
ini memiliki pengembangan ruang-waktu yang sangat besar dalam totalitas yang
dapat dinyatakan sebagai lembaga. Bisa disimpulkan bahwa struktur didefinisikan
sebagai sifat-sifat yang terstruktur yakni pada aturan dan sumber daya (Susilo, 2008, hal. 417).
Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 417) menyatakan bahwa ada tiga gugus besar struktur yakni sebagai berikut:
a) Struktur penandaan atau signifikansi yang
menyangkut skema simbolik, pemaknaan, penyebutan, dan wacana.
b) Struktur penguasaan atau dominasi yang mencakup
skemata penguasaan atas orang (politik) dan barang atau hal (ekonomi).
c) Struktur pembenaran (legitimasi) yang menyangkut
skemata peraturan normatif yang terungkap dalam tata hukum.
Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 419) mengambil contoh apa yang dikatakan Durkheim sebagai sosialisasi. Menurut
Durkheim, sosialisasi benar-benar mengikat, tetapi kemudian ia menyadari bahwa
sosialisasi benar-benar menggabungkan dunia hal yakni mendorong dan mengikat. Contoh
yang diambil Giddens bagaimana individu mempelajari bahasa pertama. Tidak ada
orang yang memilih bahasa pertama itu, sekalipun untuk mendapatkannya
elemen-elemen kerelaan yang nyata. Sejak yang ia kira sebagai sebuah tentang
frame, aturan yang membimbing properti dan proses bahasa menyusun batasan
tertentu pada kognisi dan aktivitas. Tetapi dengan hal yang sama-sama nyata,
mempelajari bahasa benar-benar mengembangkan kapasitas-kapasitas praktis dan
kognitif pada individu.
Agen dan Struktur Serta Tindakan Berulang-ulang (Rekursif)
Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 421) menunjukkan bahwa baik peristiwa yang dialami oleh agen maupun
struktur bukan sekedar hasil, tetapi juga menunjukkan sebuah proses. Dari
sinilah tampak bahwa teori sosiologi Giddens begitu dinamis. Tindakan
berulang-ulang tersebut dikatakan Giddens sebagai rekursif. Dengan
mengutip Gregory, Richard L. Wolfel menyatakan bahwa rekursif sebagai teori yang menunjukkan struktur
adalah medium maupun hasil dari praktik-praktik sosial yang menentukkan sisitem
sosial. Kemudian, dengan menggabungkan teori Giddens bahwa struktur tidak
dikonseptualisasikan sebagai penghalang pada tindakan, maka pada esensinya ia
meliputi tindakan tersebut. Struktur dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan
sosial. Selanjutya, Giddens menyatakan konsep rutinisasi. Rutin, hal
apapun yang dikerjakan dengan kebiasaan, merupakan elemen paling dasar dari
aktivitas sosial sehari-hari.
Daftar Pustaka
Susilo, R. K. D. (2008). 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biografi Para
Peletak Sosiologi Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar