Total Tayangan Halaman

Kamis, 07 September 2017

MEMAHAMI ANTHONNY GIDDENS DAN TEORI STRUKTURASI

REVIEW TEORI SOSIOLOGI MODERN (TSM)
ANTHONNY GIDDENS DAN TEORI STRUKTURASI

Oleh :
Ahmad Jaenudin

     Memahami teori Anthonny Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 411), baik secara individu maupun dari sisi masyarakat. Hal ini tampak dari yang dinyatakannya sebagai teori strukturasi, yakni : “Bidang utama studi ilmu-ilmu sosial, menurut teori strukturasi, bukan juga keberadaan bentuk totalitas masyarakat, tetapi praktik sosial teratur yang melewati ruang dan waktu. Struktur yaitu apa yang memberi  bentuk pada kehidupan sosial, tetapi bukan bentuk itu sendiri. Struktur memiliki keberadaan hanya dalam dan lewat kegiatan-kegiatan agen manusia”.

     Gagasan Giddens yang cukup terkenal terkait dengan teori ini, Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 413) menyebut individu dengan istilah human agent. Bisa disimpulkan yang menjadi dua kajian (subject matter) sosiologinya yakni sebagai berikut:
a)  Masyarakat bukan realitas objektif yang begitu saja ada, tetapi dibentuk oleh tindakan-tindakan anggota.
b)     Tindakan membentuk masyarakat jelas-jelas penampilan yang berkeahlian.

      Kemudian, tidak sama dengan Peter L. Berger (dalam Susilo, 2008, hal. 413) tentang man (individu) dan society (masyarakat), Giddens menjelaskan masyarakat dengan konsep agen dan struktur. Makna agen sama dengan individu, tetapi lebih menunjuk pada watak individu aktif. Jelas ini membedakan dengan sosiologi deterministik, dan aktor di sini diyakini memiliki lebih dari satu pilihan, dan memiliki kemampuan melihat banyak peluang untuk menciptakan pertentangan.
     Agen atau aktor yang digunakan Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 413), secara bertukar memiliki aspek inheren tentang apa yang mereka lakukan dan kapasitas untuk memahami apa yang mereka lakukan sambil mereka melakukan sesuatu. Kata Giddens, setiap manusia merupakan agen yang bertujuan karena sebagai individu, ia memiliki dua kecenderungan, yakni memiliki alasan-alasan untuk tindakan-tindakannya dan kemudian mengelaborasi alasan-alasan ini secara terus menerus atau berulang-ulang, individu juga melakukan tindakan sebagai bertujuan, atau bermotif. Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 415) menyatakan bahwa struktur dan agen adalah dualitas, yakni konsepsi tentang struktur sosial, baik sebagai medium maupun merupakan hasil dari tindakan sosial yang dilakukan agen. Bisa dikatakan bahwa struktur terjadi karena ada agen, demikian pula sebaliknya.

Batasan Agensi Manusia
     Beberapa batasan pada agensi manusia yang disebutkan (dalam Susilo, 2008, hal. 416-417) yakni sebagai berikut:
a)  Agensi manusia menekankan hubungan antara aktor dan kekuasaan. Tindakan bergantung pada kemampuan individu untuk membuat sebuah perbedaan dari kondisi peristiwa atau tingkatan-tingkatan kejadian sebelumnya.
b) Sebagai aliran teori sosial terkemuka tidak mengenal perbedaan, utamanya berhubungan dengan objektivisme dan struktural. Mereka menyatakan bahwa kekangan beroperasi seperti kekuatan di alam, seolah-olah ‘tidak memiliki pilihan’ yang sama dengan yang digerakkan tanpa perlawanan dan tidak mampu dipahami oleh tekanan-tekanan mekanis.
c)     Aktor tidak bebas untuk memilih bagaimana membentuk dunia sosial, tetapi dibatasi oleh pengekangan posisi historis yang mereka tidak pilih. Baik tindakan aktor maupun struktur akan melibatkan tiga aspek, yakni makna, norma, dan kekuasaan.

Arti Penting dan Pengertian Struktur
      Untuk melengkapi penjelasan tentang agen, Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 417) menjelaskan pula tentang struktur. Ada beberapa hal yang terkait dengan struktur, yakni sebagai berikut:
a)    Struktur merupakan sifat-sifat terstruktur yang mengikat ruang dan waktu dalam sistem sosial. Sifat-sifat ini menjadi praktik sosial yang sama yang terlihat berlangsung melebihi tentang ruang-waktu dan meminjamkan kepadanya dalam bentuk sistemik.
b)       Struktur merupakan keteraturan yang sebenarnya dari hubungan transformatif, yang berarti sistem sosial karena praktik-praktik sosial yang terproduksi tidak memiliki struktur, tetapi lebih menunjukkan sifat-sifat struktural dan keberadaan struktural itu sebagai kehadiran ruang dan waktu, hanya dalam penggambaran contoh-contoh seperti pada praktik-praktik sosial dan sebagai memori yang menemukan arah pada perilaku agen manusia yang dapat dikenali.

   Sifat-sifat struktural sebagai organisasi secara hierarkis dalam kerangka pengembangan ruang waktu dari praktik-praktik yang mereka atur secara-berulang-ulang. Sifat struktural yang sangat dalam dan melekat berhubungan secara tidak langsung dengan reproduksi totalitas masyarakat. Giddens menyebutnya sebagai prinsip-prinsip struktural. Praktik-praktik ini memiliki pengembangan ruang-waktu yang sangat besar dalam totalitas yang dapat dinyatakan sebagai lembaga. Bisa disimpulkan bahwa struktur didefinisikan sebagai sifat-sifat yang terstruktur yakni pada aturan dan sumber daya (Susilo, 2008, hal. 417).

     Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 417) menyatakan bahwa ada tiga gugus besar struktur yakni sebagai berikut:
a)    Struktur penandaan atau signifikansi yang menyangkut skema simbolik, pemaknaan, penyebutan, dan wacana.
b)      Struktur penguasaan atau dominasi yang mencakup skemata penguasaan atas orang (politik) dan barang atau hal (ekonomi).
c)     Struktur pembenaran (legitimasi) yang menyangkut skemata peraturan normatif yang terungkap dalam tata hukum.

     Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 419) mengambil contoh apa yang dikatakan Durkheim sebagai sosialisasi. Menurut Durkheim, sosialisasi benar-benar mengikat, tetapi kemudian ia menyadari bahwa sosialisasi benar-benar menggabungkan dunia hal yakni mendorong dan mengikat. Contoh yang diambil Giddens bagaimana individu mempelajari bahasa pertama. Tidak ada orang yang memilih bahasa pertama itu, sekalipun untuk mendapatkannya elemen-elemen kerelaan yang nyata. Sejak yang ia kira sebagai sebuah tentang frame, aturan yang membimbing properti dan proses bahasa menyusun batasan tertentu pada kognisi dan aktivitas. Tetapi dengan hal yang sama-sama nyata, mempelajari bahasa benar-benar mengembangkan kapasitas-kapasitas praktis dan kognitif pada individu.

Agen dan Struktur Serta Tindakan Berulang-ulang (Rekursif)
     Giddens (dalam Susilo, 2008, hal. 421) menunjukkan bahwa baik peristiwa yang dialami oleh agen maupun struktur bukan sekedar hasil, tetapi juga menunjukkan sebuah proses. Dari sinilah tampak bahwa teori sosiologi Giddens begitu dinamis. Tindakan berulang-ulang tersebut dikatakan Giddens sebagai rekursif. Dengan mengutip Gregory, Richard L. Wolfel menyatakan bahwa rekursif  sebagai teori yang menunjukkan struktur adalah medium maupun hasil dari praktik-praktik sosial yang menentukkan sisitem sosial. Kemudian, dengan menggabungkan teori Giddens bahwa struktur tidak dikonseptualisasikan sebagai penghalang pada tindakan, maka pada esensinya ia meliputi tindakan tersebut. Struktur dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan sosial. Selanjutya, Giddens menyatakan konsep rutinisasi. Rutin, hal apapun yang dikerjakan dengan kebiasaan, merupakan elemen paling dasar dari aktivitas sosial sehari-hari.

Daftar Pustaka

Susilo, R. K. D. (2008). 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biografi Para Peletak Sosiologi ModernYogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI