REVIEW
TEORI SOSIOLOGI MODERN (TSM)
TEORI
KONFLIK - LEWIS COSER
Oleh :
Ahmad Jaenudin
Teori konflik (dalam Raho, 2007, hal. 71) muncul
sebagai reaksi atas teori fungsionalisme struktural yang kurang memperhatikan fenomena konflik di
dalam masyarakat. Namun demikian, teori ini mempunyai akar dalam karya Karl
Marx di dalam teori sosiologi klasik dan dikembangkan oleh beberapa pemikir
sosial berasal dari masa-masa kemudian. Sebelum membahas tokoh teori konflik lebih lanjut,
terlebih dahulu kita akan menguraikan tentang apa itu teori konflik yakni
sebagai berikut:
APA
ITU TEORI KONFLIK
Teori konflik (dalam Raho, 2007, hal. 71) adalah salah satu perspektif di dalam sosiologi
yang memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial yang terdiri dari berbagai
bagian-bagian atau komponen-komponen yang mempunyai kepentingan yang
berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha menaklukkan komponen yang lain
guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.
DASAR TEORI KONFLIK
Pada dasarnya pandangan teori konflik (dalam Raho,
2007, hal. 72) tentang masyarakat sebetulnya tidak banyak berbeda
dari pandangan teori fungsionalisme struktural karena keduanya sama-sama
memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian.
Perbedaan antara keduanya terletak dalam asumsi mereka yang berbeda-beda
tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat itu. Menurut teori fungsionalisme
struktural, elemen-elemen itu fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan
bisa berjalan secara normal. Sedangkan bagi teori konflik, elemen-elemen itu
mempunyai kepentingan yang berbeda-beda sehingga mereka berjuang untuk saling
mengalahkan satu sama lain guna memperoleh kepentingan sebesar-besarnya. Guna
memahami itu secara lebih baik, kita melihat kembali contoh yang telah dipakai
untuk menjelaskan teori fungsionalisme struktural yakni bisnis penerbangan di
bandara udara. Seturut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu
berfungsi dengan baik sehingga keseluruhan bisa berfungsi secara normal.
Sebaliknya teori konflik berminat untuk mencari tahu persaingan diantara elemen
atau komponen yang berbeda-beda itu seperti pihak manajemen dan pihak karyawan
supaya masing-masing memperoleh kepentingan yang besar. Bisa saja pilot
mendesak manajemen untuk tidak menerima karyawan baru agar bayarannya tetap
tinggi; atau petugas menara menuntut peralatan baru yang memudahkan pekerjan
mereka; atau petugas porter, kebersihan atau mekanik dengan kenaikan upah
sedangkan sebaliknya pimpinan menghendaki agar mereka memperoleh keuntungan.
Perbedaan itu akan menimnulkan konflik.
TEORI
KONFLIK LEWIS COSER
Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser (dalam
Raho, 2007, hal. 82-83) sering kali disebut teori fungsionalisme konflik
karena ia menekankan fungsi konflik bagi sistem sosial atau masyarakat. Di
dalam bukunya yang berjudul The Functions of Social Conflicts, Lewis
Coser memusatkan memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik. Dari
judul itu bisa dilihat bahwa uraian Coser terhadap konflik bersifat fungsional
dan terarah pada pengintegasian teori konflik dan teori fungsionalisme
struktural. Tetapi sebetulnya kalau ia mau konsekuen dengan usahanya itu maka
ia juga harus menguraikan akibat-akibat dari keteraturan (order) terhadap
konflik atau ketidak-seimbangan. Misalnya, penekanan yang terlalu banyak
terhadap peraturan bisa menimbulkan ketidak-stabilan. Pemerintahan yang
totaliter, misalnya, sekalipun menekankan aturan yang ketat bisa menimbulkan
ketidak-stabilan di dalam masyarakat. Sayang, Lewis Coser tidak sempat mendalami aspek-aspek itu. Salah satu hal yang membedakan Coser
dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya
konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Pada hal pendukung teori
konflik lainnya memusatkan analisa mereka pada konflik sebagai penyebab perubahan
sosial.
FUNGSI
DARI KONFLIK MENURUT LEWIS COSER
Hal yang menarik ketika suatu konflik ternyata
mempunyai fungsi tersendiri, hal ini seperti apa yang disampaikan oleh beberapa
Coser (dalam Raho, 2007, hal. 83-84) yakni
sebagai berikut:
a) Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok yang
agak longgar dalam masyarakat yang terancam disintegrasi, konflik dengan
masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan. Dalam hal ini, ia
sebetulnya mengembangkan apa yang sudah di katakan oleh George Simmel
sebelumnya.
Misalnya: Negara Indonesia pada masa Soekarno
dengan politik “Ganyang Malaysia” atau penciptaan label-label pada masa Orba,
seperti PKI, Subversif, GPK.
b) Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan
solidaritas di dalam kelompok tersebut, dan solidaritas itu bisa menghantarkan
kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain.
Konflik yang berkepanjangan antara Israel menjalin
kerjasama yang begitu erat dengan Amerika Serikat. Bisa saja terjadi bahwa
kalau perdamaian jangka panjang antara Negara-negara Arab dan Israel tercapai,
maka ikatan antara Israel dan Amerika menjadi kendur.
Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota
masyarakat yang terisolir menjadi berperan secara aktif.
Misalnya, sesudah mahasiswa memprotes rezim orde
baru pada awal kehancuran banyak orang tampil di depan dan dianggap sebagai
pejuang reformasi. Tidak sedikit tokoh yang barang kali tidak dikenal
sebelumnya tetapi berperan aktif pada masa peralihan itu.
c) Konflik juga berfungsi untuk berkomunikasi.
Sebelum terjadinya konflik, anggota-anggota
masyarakat akan berkumpul dan merencanakan apa yang akan dilakukan. Melalui
tukar-menukar pikiran itu mereka bisa mendapat gambaran yang lebih jelas akan
apa yang harus dibuat entah untuk mengalahkan lawan ataupun menciptakan
perdamaian.
Secara teoritis fungsionalisme struktural dan
teori konflik (dalam Raho, 2007, hal. 84) kelihatan bisa
diperdamaikan dengan menganalisa fungsi-fungsi dari konflik sebagaimana
diuraikan oleh Lewis Coser ini. Tetapi harus diakui bahwa dalam banyak hal, konflik
juga menghasilkan ketidak-berfungsian, atau disfungsi. Artinya fungsi-fungsi
yang disebutkan oleh Lewis Coser itu tidak seberapa dibanding dengan
ketidak-stabilan atau kehancuran yang disebabkan oleh konflik itu.
Daftar
Pustaka
Raho. B. SVD. (2007). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar