Total Tayangan Halaman

Kamis, 07 September 2017

GAGASAN LEWIS COSER PADA KONFLIK DAN FUNGSINYA

REVIEW TEORI SOSIOLOGI MODERN (TSM)
TEORI KONFLIK - LEWIS COSER

Oleh :
Ahmad Jaenudin

Teori konflik (dalam Raho, 2007, hal. 71) muncul sebagai reaksi atas teori fungsionalisme struktural  yang kurang memperhatikan fenomena konflik di dalam masyarakat. Namun demikian, teori ini mempunyai akar dalam karya Karl Marx di dalam teori sosiologi klasik dan dikembangkan oleh beberapa pemikir sosial berasal dari masa-masa kemudian. Sebelum membahas tokoh teori konflik lebih lanjut, terlebih dahulu kita akan menguraikan tentang apa itu teori konflik yakni sebagai berikut:

APA ITU TEORI KONFLIK
Teori konflik (dalam Raho, 2007, hal. 71)  adalah salah satu perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial yang terdiri dari berbagai bagian-bagian atau komponen-komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha menaklukkan komponen yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.

DASAR TEORI KONFLIK
Pada dasarnya pandangan teori konflik (dalam Raho, 2007, hal. 72) tentang masyarakat sebetulnya tidak banyak berbeda dari pandangan teori fungsionalisme struktural karena keduanya sama-sama memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian. Perbedaan antara keduanya terletak dalam asumsi mereka yang berbeda-beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat itu. Menurut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa berjalan secara normal. Sedangkan bagi teori konflik, elemen-elemen itu mempunyai kepentingan yang berbeda-beda sehingga mereka berjuang untuk saling mengalahkan satu sama lain guna memperoleh kepentingan sebesar-besarnya. Guna memahami itu secara lebih baik, kita melihat kembali contoh yang telah dipakai untuk menjelaskan teori fungsionalisme struktural yakni bisnis penerbangan di bandara udara. Seturut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu berfungsi dengan baik sehingga keseluruhan bisa berfungsi secara normal. Sebaliknya teori konflik berminat untuk mencari tahu persaingan diantara elemen atau komponen yang berbeda-beda itu seperti pihak manajemen dan pihak karyawan supaya masing-masing memperoleh kepentingan yang besar. Bisa saja pilot mendesak manajemen untuk tidak menerima karyawan baru agar bayarannya tetap tinggi; atau petugas menara menuntut peralatan baru yang memudahkan pekerjan mereka; atau petugas porter, kebersihan atau mekanik dengan kenaikan upah sedangkan sebaliknya pimpinan menghendaki agar mereka memperoleh keuntungan. Perbedaan itu akan menimnulkan konflik.

TEORI KONFLIK LEWIS COSER
Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser (dalam Raho, 2007, hal. 82-83) sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi sistem sosial atau masyarakat. Di dalam bukunya yang berjudul The Functions of Social Conflicts, Lewis Coser memusatkan memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik. Dari judul itu bisa dilihat bahwa uraian Coser terhadap konflik bersifat fungsional dan terarah pada pengintegasian teori konflik dan teori fungsionalisme struktural. Tetapi sebetulnya kalau ia mau konsekuen dengan usahanya itu maka ia juga harus menguraikan akibat-akibat dari keteraturan (order) terhadap konflik atau ketidak-seimbangan. Misalnya, penekanan yang terlalu banyak terhadap peraturan bisa menimbulkan ketidak-stabilan. Pemerintahan yang totaliter, misalnya, sekalipun menekankan aturan yang ketat bisa menimbulkan ketidak-stabilan di dalam masyarakat. Sayang, Lewis Coser tidak sempat mendalami aspek-aspek itu. Salah satu hal yang membedakan Coser dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Pada hal pendukung teori konflik lainnya memusatkan analisa mereka pada konflik sebagai penyebab perubahan sosial.

FUNGSI DARI KONFLIK MENURUT LEWIS COSER
Hal yang menarik ketika suatu konflik ternyata mempunyai fungsi tersendiri, hal ini seperti apa yang disampaikan oleh beberapa Coser (dalam Raho, 2007, hal. 83-84)  yakni sebagai berikut:
a)     Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok yang agak longgar dalam masyarakat yang terancam disintegrasi, konflik dengan masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan. Dalam hal ini, ia sebetulnya mengembangkan apa yang sudah di katakan oleh George Simmel sebelumnya.
Misalnya: Negara Indonesia pada masa Soekarno dengan politik “Ganyang Malaysia” atau penciptaan label-label pada masa Orba, seperti PKI, Subversif, GPK.
b)  Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok tersebut, dan solidaritas itu bisa menghantarkan kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain.
Konflik yang berkepanjangan antara Israel menjalin kerjasama yang begitu erat dengan Amerika Serikat. Bisa saja terjadi bahwa kalau perdamaian jangka panjang antara Negara-negara Arab dan Israel tercapai, maka ikatan antara Israel dan Amerika menjadi kendur.
Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolir menjadi berperan secara aktif.
Misalnya, sesudah mahasiswa memprotes rezim orde baru pada awal kehancuran banyak orang tampil di depan dan dianggap sebagai pejuang reformasi. Tidak sedikit tokoh yang barang kali tidak dikenal sebelumnya tetapi berperan aktif pada masa peralihan itu.
c)       Konflik juga berfungsi untuk berkomunikasi.
Sebelum terjadinya konflik, anggota-anggota masyarakat akan berkumpul dan merencanakan apa yang akan dilakukan. Melalui tukar-menukar pikiran itu mereka bisa mendapat gambaran yang lebih jelas akan apa yang harus dibuat entah untuk mengalahkan lawan ataupun menciptakan perdamaian.

Secara teoritis fungsionalisme struktural dan teori konflik (dalam Raho, 2007, hal. 84) kelihatan bisa diperdamaikan dengan menganalisa fungsi-fungsi dari konflik sebagaimana diuraikan oleh Lewis Coser ini. Tetapi harus diakui bahwa dalam banyak hal, konflik juga menghasilkan ketidak-berfungsian, atau disfungsi. Artinya fungsi-fungsi yang disebutkan oleh Lewis Coser itu tidak seberapa dibanding dengan ketidak-stabilan atau kehancuran yang disebabkan oleh konflik itu.

Daftar Pustaka
Raho. B. SVD. (2007). Teori Sosiologi Modern.  Jakarta: Prestasi Pustakaraya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI