Total Tayangan Halaman

Minggu, 26 November 2017

PENGGOLONGAN JENIS PENELITIAN



PENGGOLONGAN JENIS PENELITIAN
DALAM METODE PENELITIAN SOSIAL


Penggolongan jenis penelitian sangat beragam, hal ini berdasarkan sudut pandang masing-masing.  Salah satu penggolongan yang banyak digunakan adalah membedakan jenis penelitian ke dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Kemudian dari masing-masing jenis penelitian memiliki ciri-ciri yang berbeda.  Karena ciri-ciri kedua jenis penelitian ini berbeda, maka format proposal penelitiannya juga cenderung tidak sama.  

Secara garis besar, berikut disajikan format proposal kedua jenis penelitian tersebut.  Namun yang perlu diingat bahwa contoh format ini tidak baku,  setidak-tidaknya dapat dipakai sebagai acuan untuk penelitian yang lazim dilakukan di bidang ilmu sosial.


Tabel.  Format Proposal Penelitian Sosial
BAB
PENELITIAN  KUANTITATIF
(Mainstream, Positivistik)
PENELITIAN  KUALITATIF
(Non-mainstream, Non positivistik)

I







II




III







IV










--

PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang Penelitian
1.2.  Rumusan Masalah
1.3.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1.    Tujuan Penelitian
1.3.2.    Manfaat Penelitian
1.4.     Orisinalitas Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Landasan Teori
2.2.  Kajian Empirik (Penelitian
       Terdahulu)

KERANGKA KONSEPTUAL
PENELITIAN
3.1.  Kerangka Pemikiran
3.2.  Hipotesis
3.3.  Definisi dan Pengukuran
Variabel
3.4.  Validitas dan Reliabilitas

METODE PENELITIAN
4,1, Pendekatan Penelitian
4.2.  Penentuan Lokasi Penelitian
4.3.  Teknik Pengambilan Sampel (Responden)
4.4.  Tehnik Pengumpulan Data
4.5.  Teknik Analisis Data




DAFTAR PUSTAKA


PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang Penelitian
1.2.  Rumusan Masalah
1.3.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1.    Tujuan Penelitian
1.3.2.    Manfaat Penelitian
1.4.    Orisinalitas Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Kajian Teori (analisis kritik teori)
2.2.  Kajian Empirik (Penelitian
       Terdahulu)

KERANGKA KONSEPTUAL
PENELITIAN
3.1.  Alur Pemikiran

3.2.  Penjelasan dan Indikator
       Konsep Penelitian
3.3.  Keabsahan Data

METODE PENELITIAN
4.1.  Pendekatan Penelitian
4.2.  Fokus Penelitian
4.3.  Penentuan Lokasi dan Situs
       Penelitian
4.4.  Teknik Penentuan
       Informan
4.5.  Teknik Pengumpulan
       Data
4.6.  Teknik Analisis Data

DAFTAR PUSTAKA






Sumber Bacaan:
Materi ini didapatkan dalam perkuliahan Metode Penelitian Sosial, dengan Dosen Pengampu Bapak Prof. Dr. Ir. Sanggar Kanto, MS., terimakasih kepada beliau yang telah banyak membimbing Penulis selama belajar di Universitas Brawijaya Malang.

PENJELASAN SINGKAT ISI PROPOSAL PENELITIAN


PENJELASAN  SINGKAT ISI PROPOSAL PENELITIAN
DALAM METODE PENELITIAN SOSIAL



1.            PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang Masalah
Pada latar belakang yang berisikan suatu alasan atau rasionalitas mengapa suatu fenomena yang akan diteliti tersebut penting untuk diteliti.  Dimulai dengan deskripsi secara umum (makro) kemudian diarahkan untuk memaparkan adanya suatu permasalahan tentang fenomena yang akan diteliti.  Permasalahan ini ditunjukkan dengan adanya kesenjangan antara harapan (das Sollen) dengan kenyataan (das Sein) atau perlunya pemahaman tentang fenomena tersebut.  Dari permasalahan yang ada akan dicoba untuk dipahami atau dicarikan alternatif solusinya.

1.2.       Perumusan Masalah
Dirumuskan secara detail tentang masalah yang akan diteliti. Perumusan masalah ini merupakan Pertanyaan Penelitian (Research questions), oleh karena itu umumnya dinyatakan dalam kalimat tanya.

1.3.       Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1.   Tujuan Penelitian
Harus konsisten dengan rumusan masalah dan dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan.  Tujuan penelitian ini lazimnya dipaparkan dalam bentuk kalimat deklaratif.

1.3.2.   Manfaat Penelitian
Pada prinsipnya manfaat penelitian meliputi dua hal :
1)     Manfaat akademis : untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan informasi bagi penelitian lebih lanjut.
2)     Manfaat praktis untuk kebijakan.  Biasanya berupa masukan (input) bagi pembuat kebijakan atau kepada masyarakat.  Masukan harus konkrit dan usernya harus jelas dan spesifik.

1.4.       Orisinalitas Penelitian 
Pada point ini penulis atau peneliti menentukan, posisi rencana penelitian kita dibandingkan penelitian sejenis yang sdh ada, missal : perbedaan teori, metode penelitian, dll.



2.            TINJAUAN PUSTAKA

2.1.       Landasan Teori atau Kajian Teori
Untuk  kuantitatif, dipaparkan teori-teori yang dipakai sebagai landasan atau acuan penelitian.  Sedangkan pada penelitian kualitatif, dilakukan kajian kritis terhadap teori-teori yang dianggap terkait dengan penelitian.  Dalam hal ini, teori cenderung sebagai orientasi penelitian.

2.2.       Kajian Empirik (Penelitian Terdahulu)
Dipaparkan hasil-hasil penelitian sejenis yang sudah pernah dilakukan.  Penelitian terdahulu ini tidak harus persis dengan topik penelitian yang diteliti, setidaknya mirip atau ada kesamaan tentang variabel-variabel atau konsep-konsep yang akan diteliti.

2.3.       Kerangka Konseptual Penelitian
2.3.1.   Kerangka Pemikiran atau Alur Pemikiran
Merupakan review dari tinjauan pustaka dan kajian empirik untuk menggambarkan hubungan antar berbagai variabel (untuk peneltian kuantitatif)  atau konsep (untuk penelitian kualitatif) yang akan diteliti.  Dipaparkan dalam bentuk deskriptif dan gambar atau bagan. Kerangka atau alur pikir.............mampu menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian.

2.3.2.     Hipotesis
Dirumuskan berdasarkan kerangka pemikiran.  Hipotesis ini merupakan kesimpulan  sementara (tentative conclusion) yang akan diuji berdasar-kan data empirik dari lapang.  Untuk penelitian kualitatif tidak diperlukan hipotesis.

2.3.3.   Definisi dan Pengukuran Variabel (penelitian kuantitatif), Penjelasan dan  Indikator Konsep (penelitian kualitatif). 
Variabel-variabel yang akan diteliti perlu didefinisikan dan dilakukan pengukuran secara jelas.  Konsep-konsep perlu dijelaskan disertai indikatornya.

2.3.4.   Validitas dan Reliabilitas (lihat buku : Metode Penelitian Survai oleh Masri   Singarimbun dan Sofyan Effendi dan bukunya Sugiyono).
Validitas dan reliabilitas ini digunakan untuk mengukur instrumen yang digunakan dalam penelitian kuantitatif , yaitu kuesioner.  Untuk itu perlu dilakukan terlebih dahulu uji coba (try out) kuesioner di lapang dengan menggunakan sampel kecil.
Untuk penelitian kualitatif, dideskripsikan persyaratan keabsahan data, yang mencakup : kredibilitas, konfirmabilitas, dependabilitas dan transferabilitas (lihat buku : Metode Penelitian Kualitatif oleh Moleong, dan bukunya Sugiyono).


3.            METODE PENELITIAN

3.1.        Pendekatan Penelitian
Pendekatan atau jenis penelitian meliputi penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif/deskriptif. Bisa dikembangkan berdasarkan tujuan penelitiannya, misalnya kuantitatif eksplanatif, kualitatif eksploratif atau kualitatif deskriptif. Disarankan untuk memilih salah satu dari jenis penelitian tersebut.  Bagi peneliti yang sudah berpengalaman dan untuk tujuan tertentu, seringkali dilakukan kombinasi atau gabungan antara kedua jenis penelitian  tersebut (mixing method).  Dalam pendekatan kuantitatif umumnya menggunakan metode survey, sedangkan untuk pendekatan kualitatif banyak menggunakan metode studi kasus, fenomenologi, etnometodologi, etnografi, dll.

3.2.        Fokus Penelitian 
Fokus penelitian lazimnya dipakai pada penelitian kualitatif. Sedangkan penjabarannya mulai dari rumusan masalah dan tujuan penelitian. Dengan fokus penelitian akan memudahkan peneliti untuk merencanakan data atau informasi apa yang akan dikumpulkan. 

3.3.        Penentuan Lokasi Penelitian
Peneliti harus memahami kondisi lokasi yang akan diteliti,  apakah sesuai untuk dijadikan lokasi penelitian.  Pemilihan lokasi penelitian ini perlu disertai dengan alasan mengapa dipilih lokasi tersebut bukan di tempat atau lokasi yang lain.  Dalam penelitian kualitatif akan lebih lengkap bilamana ditambahkan situs penelitian yang merupakan sasaran atau obyek yang akan diteliti.

3.4.        Teknik Pengambilan Sampel (Sampling method)
Pada penelitian kuantitatif, metode pengambilan sampel sangat penting dan harus dipilih metode yang paling tepat.  Hal ini disebabkan karena kesimpulan yang didasarkan atas data dari sampel harus mewakili (representative) terhadap populasi.   Untuk melakukan sampling, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyusun kerangka sampling (sampling frame).  Oleh karena itu, metode sampling dalam penelitian kuantitatif tergolong dalam probability sampling. Sedangkan dalam penelitian kualitatif, umumnya menggunakan non-probability sampling.  Kesimpulan bukan dimaksudkan untuk mewakili populasi akan tetapi lebih kepada representasi terhadap fenomena yang diteliti.

3.5.        Teknik Pengumpulan Data
Dikenal banyak macam metode pengumpulan data, antara lain :
1)        Wawancara (interview): digunakan untuk memperoleh data primer dari sampel atau responden / informan.  Instrumen wawancara yang dipakai dalam penelitian kuantitatif berupa Daftar Pertanyaan (Questionnairre = Kuesioner).  Kuesioner bisa bersifat terstruktur atau semi terstruktur.  Dalam penelitian kualitatif, dilakukan wawancara mendalam (indepth interview) yang sifatnya bebas atau tidak terstruktur.  Oleh karena itu, umumnya instrumennya berupa panduan wawancara atau catatan harian ( field notes ).
2)        Observasi atau pengamatan.  Peneliti melakukan pengamatan tentang fenomena alam atau fenomena sosial yang ada kaitannya dengan fokus penelitian.  Pengamatan ini penting untuk melengkapi dan cross-check terhadap data yang diperoleh dari wawancara. Observasi bisa dilengkapi dengan pengambilan foto-foto yang relevan.
3)        Dokumentasi : digunakan untuk memperoleh data sekunder misalnya yang bersumber dari dokumen-dokumen dari berbagai instansi terkait yang ada hubungannya dengan penelitian.

3.6.        Teknik Analisis Data
Pada prinsipnya dapat dibedakan dua macam analisis, yaitu :
1)        Analisis Inferensial : berupa analisis statistik (baik statistik parametrik maupun non-parametrik) untuk mengambil kesimpulan kaitan antara variabel-variabel yang diteliti.  Kaitan antar variabel bisa bersifat : fungsional (pengaruh variabel terhadap variabel lainnya), hubungan (korelasi) atau perbedaan. 
2)        Analisis Deskriptif : berupa uraian atau narasi tentang fenomena yang diteliti. Seringkali untuk memudahkan penarikan kesimpulan, menggunakan statistik deskriptif dalam bentuk tabel-tabel (cross table = tabel silang).

Analisis inferensial umumnya dilakukan untuk penelitian kuantitatif, karena bermaksud untuk menganalisis hubungan antara variabel.  Analisis deskriptif cocok dilakukan untuk penelitian deskriptif atau kualitatif karena ingin menggambarkan/memahami fenomena yang diteliti secara mendalam.  Analisisnya, misalnya dapat menggunakan Model Interaktif sebagai berikut :
Gambar 1.   Analisis Data Model Interaktif Miles dan Huberman (Sugiyono, 2012)





Sumber Bacaan:
Materi ini didapatkan dalam perkuliahan Metode Penelitian Sosial, dengan Dosen Pengampu Bapak Prof. Dr. Ir. Sanggar Kanto, MS., terimakasih kepada beliau yang telah banyak membimbing Penulis selama belajar di Universitas Brawijaya, Malang.










Sabtu, 25 November 2017

PENDEKATAN FENOMENOLOGI



PENDEKATAN FENOMENOLOGI
DALAM METODE PENELITIAN SOSIAL

Oleh
Ahmad Jaenudin



1.         PENGERTIAN FENOMENOLOGI
Fenomenologi secara istilah, pertama kali dikemukakan oleh Johann Heinrich Lambert pada tahun 1728-1777, beliau adalah seorang filsuf dari Negara Jerman. Hal ini yang ditulis dalam bukunya Neues Organon pada tahun 1764, hal tersebut ditulisnya tentang ilmu yang tak nyata. Peneliti dalam pandangan fenomenologi menurut Moleong (2002:9), yakni usaha dalam memahami arti peristiwa dan beberapa kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti mereka.
Fenomenologi sendiri merupakan sebuah teori, seperti yang disampaikan oleh Bernard Raho (2007:26), dalam bukunya yang bernaung dibawah paradigma definisi sosial. Fenomenologi yang lebih memfokuskan kenyataan sosial, dan hal tersebut tidak bergantung kepada makna yang diberikan oleh individu. Melainkan pada kesadaran subyektif aktor.


2.         MODEL PERTANYAAN DALAM FENOMENOLOGI
Terkait menyusun pertanyaan pada penelitian model fenomenologi, menurut Herdiansyah (2011:96), bahwa pertanyaan penelitian biasanya diawali dengan kata apa (what) walaupun whay dan how juga penting untuk diajukan dalam rangka mencari alasan (untuk whay) dan untuk mengetahui proses (untuk haw). Kemudian menurut Maustakas (dalam Herdiansyah, 2011:96), menyatakan bahwa dalam model fenomenologi, pertanyaan inti tidak hanya berupa pertanyaan untuk mengetahui alasan dan proses saja, tetapi harus juga berorientasi pada isu yang diangkat.  
Berdasarkan pemaparan tersebut, berikut beberapa point penting yang perlu tercantum dalam pertanyaan penelitian model fenomenologi menurut Herdiansyah (2011:96), yakni sebagai berikut:
1)     Apakah arti yang mungkin muncul dari pengalaman yang dialami?
2)     Apakah tema inti dan konteksnya dari pengalaman yang dialami tersebut?
3)     Struktur universal apa saja yang melibatkan perasaaan dan pikiran mengenai pengalaman yang dialami tersebut?
4)     Tema structural apa saja yang menfasilitasi deskripsi dari pengalaman yang dialami tersebut?


3.         INKUIRI FENOMENOLOGI
Pemparan ini yang membicarakan tentang inkuiri fenomenologi, menurut Moleong (2002:9) yakni inkuiri pada fenomenologi memulai dengan diam, sedangkan diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Mereka berusaha untuk masuk kedalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedimikian rupa, sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.


4.         IMPLIKASI DAN PENDEKATAN FENOMENOLOGI
Persoalan implikasi serta pendekatan pada fenomenologi, dalam hal ini menurut Sutinah (2005:178) mempuyai dua implikasi yakni sebagai berikut:
1)     Untuk mengetahui apa yang dialami orang dan bagaimana ia menafsirkan dunia. Inilah pokok perhatian penyelidikan fenomenologis.
2)     Satu-satunya cara agar kita benar-benar mengetahui apa yang dialami orang lain adalah langsung mengalaminya sendiri. Disinilah pentingnya observasi partisipatif. Akan tetapi, melakukan pengkajian dengan fokus fenomenologis yakni mencapai hakikat pengalaman suatu gejala.


5.         TUJUAN FENOMENOLOGI
Tujuan dari fenomenologi menurut Bernard Raho (2007:125), yakni menganalisis dan melukiskan kehidupan sehari-hari atau dunia kehidupan sebagaimana disadari oleh aktor. Masuknya fenomenologi dalam dunia sosiologi berdasarkan Bernard Raho (2007:126) yakni, melalui karya Alfred Schutz. Kemudian Alfred Shutz sendiri dipengaruhi oleh filsuf Jerman Edumund Husserl. Sedangkan pada studi sosiologi dengan menggunakan prinsip-prinsip fenomenologi yang dilakukan pertama oleh; P. Berger dan T. Luckman dalam buku mereka yang berjudul “The social Construktion of Reality” (1967). Studi yang kedua dilakukan oleh; George Psathas dan Frances Waksler di dalam karya mereka yang berjudul “Essential Feature of Face to Face Interaktion” (1973).


6.         SUDUT PANDANG TOKOH FENOMENOLOGI
Sosiologi fenomenologis menurut Moleong (2002:9) pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husserl dan Alfred Schutz. Pengaruh lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan pada verstehcn, yaitu pengertian interpretative terhadap pemahaman manusia. Berdasarkan hal tersebut, berikut pemaparan dari pemikirian tokoh terkait sudut pandang tokoh fenomenologi yakni sebagai berikut:

6.1.     Fenomenologi Awal : Pemikiran Edmund Husserl
Menurut Bernard Raho (2007:26) pada tahun 1859-1938 seorang filsuf asal Jerman Edmund Husserl, sering disebut sebagai Bapak Fenomenologi. Pada sebutan tersebut memiliki alasan karena banyak pemikiran Husserl yang mempengaruhi ilmu sosial pada umumnya dan teori fenomenologi pada khususnya. Sedangkan dari beberapa pokok pemikiran Edmund Husserl yang berhubungan dengan fenomenologi meliputi pada; 1) Problem filosofis mendasar, 2) Ruang lingkup kesadaran, 3) Kritik terhadap ilmu pengetahuan, 4) Jalan keluar yang dianjurkan Husserl, 5) Sumbangan Husserl untuk fenomenlogi.

6.2.     Fenomenologi Alfred Schutz
Fenomenologi Alfred Schutz (dalam Raho, 2007:133) terkait sumbangannya  yang paling besar terletak dalam kemampuannya untuk memadukan fenomenologi Husserl dengan teori aksi dari Max Weber dan interaksi simbolik dari Chicago. Perpaduan tersebut menjadi sumber pengembangan fenomenologi dan pemunculan ethnometodologi. Berikut hubungan Schutz dengan tiga pemikiran dan arah pemikirannya dalam fenomenologi, yakni analisis Schutz terhadap Karya Max Weber pertama tentang perbedaan Schutz dari Husserl, kedua kontak dengan interaksionisme simbolik, dan ketiga fenomenologi Alfred Schutz.


7.         CONTOH-CONTOH SOSIOLOGI FENOMENOLOGI
7.1.     Interaksi dari Muka ke Muka
Psathas dan Waksler (dalam Raho, 2007:141) mengawali uraian mereka tentang interaksi dari muka ke muka dengan asumsi bahwa Interaski tersebut merupakan dasar dari fenomena yang lebih kompleks dan berskala besar. Karena itu mereka memilih untuk memusatkan perhatian pada  level analisis yang bersifat individual, khususnya tentang kesadaran. Dan berikut tiga komponen dasar dari interaksi dari muka ke muka yakni; 1) ciri-ciri actor, 2) ciri-ciri relasi antar actor, dan 3) ciri-ciri aksi.

7.2.     Konstruksi Sosial atas Kenyataan
Pembahasan pada point ini, penulis masih dalam reviuw ulang materi yang ada dan masih dalam revisi. Terimakasih.




8.         DAFTAR PUSTAKA

Bernard Raho, S. (2007). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustakarya.

Herdiansyah, H. (2011). Metode Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosia Dasar. Jakarta: Salemba Humanika.

Moleong, L. J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sutinah, B. S. (2005). Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.



PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI