PENDEKATAN FENOMENOLOGI
DALAM METODE
PENELITIAN SOSIAL
Oleh
Ahmad
Jaenudin
1.
PENGERTIAN FENOMENOLOGI
Fenomenologi secara istilah, pertama kali dikemukakan
oleh Johann Heinrich Lambert pada tahun 1728-1777, beliau adalah seorang filsuf
dari Negara Jerman. Hal ini yang ditulis dalam bukunya Neues Organon pada tahun 1764, hal tersebut ditulisnya tentang ilmu
yang tak nyata. Peneliti dalam pandangan fenomenologi menurut Moleong (2002:9),
yakni usaha dalam memahami arti peristiwa dan beberapa kaitannya terhadap
orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi
bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti
mereka.
Fenomenologi sendiri merupakan sebuah teori, seperti yang
disampaikan oleh Bernard Raho (2007:26), dalam bukunya yang bernaung dibawah
paradigma definisi sosial. Fenomenologi yang lebih memfokuskan kenyataan
sosial, dan hal tersebut tidak bergantung kepada makna yang diberikan oleh
individu. Melainkan pada kesadaran subyektif aktor.
2.
MODEL PERTANYAAN DALAM
FENOMENOLOGI
Terkait menyusun pertanyaan pada penelitian model
fenomenologi, menurut Herdiansyah (2011:96), bahwa pertanyaan penelitian biasanya diawali
dengan kata apa (what) walaupun whay
dan how juga penting untuk diajukan dalam rangka mencari alasan (untuk whay) dan untuk mengetahui proses (untuk
haw). Kemudian menurut Maustakas (dalam
Herdiansyah, 2011:96), menyatakan
bahwa dalam model fenomenologi, pertanyaan inti tidak hanya berupa pertanyaan
untuk mengetahui alasan dan proses saja, tetapi harus juga berorientasi pada
isu yang diangkat.
Berdasarkan pemaparan tersebut, berikut beberapa point penting yang
perlu tercantum
dalam pertanyaan penelitian model fenomenologi menurut Herdiansyah (2011:96),
yakni sebagai berikut:
1)
Apakah
arti yang mungkin muncul dari pengalaman yang dialami?
2)
Apakah
tema inti dan konteksnya dari pengalaman yang dialami tersebut?
3)
Struktur
universal apa saja yang melibatkan perasaaan dan pikiran mengenai pengalaman
yang dialami tersebut?
4)
Tema
structural apa saja yang menfasilitasi deskripsi dari pengalaman yang dialami
tersebut?
3.
INKUIRI FENOMENOLOGI
Pemparan ini yang membicarakan tentang inkuiri fenomenologi, menurut Moleong (2002:9) yakni inkuiri
pada fenomenologi memulai
dengan diam, sedangkan diam merupakan tindakan
untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Mereka berusaha untuk
masuk kedalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedimikian rupa,
sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan
oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.
4.
IMPLIKASI DAN PENDEKATAN
FENOMENOLOGI
Persoalan implikasi serta
pendekatan pada fenomenologi, dalam hal ini
menurut Sutinah (2005:178) mempuyai dua implikasi yakni sebagai berikut:
1)
Untuk
mengetahui apa yang dialami orang dan bagaimana ia menafsirkan dunia. Inilah
pokok perhatian penyelidikan fenomenologis.
2)
Satu-satunya
cara agar kita benar-benar mengetahui apa yang dialami orang lain adalah
langsung mengalaminya sendiri. Disinilah pentingnya observasi partisipatif.
Akan tetapi, melakukan pengkajian dengan fokus fenomenologis yakni mencapai
hakikat pengalaman suatu gejala.
5.
TUJUAN FENOMENOLOGI
Tujuan dari fenomenologi menurut Bernard
Raho (2007:125), yakni menganalisis dan melukiskan
kehidupan sehari-hari atau dunia kehidupan sebagaimana disadari oleh aktor. Masuknya
fenomenologi dalam dunia sosiologi berdasarkan Bernard Raho (2007:126)
yakni, melalui
karya Alfred Schutz. Kemudian Alfred
Shutz sendiri dipengaruhi oleh filsuf Jerman Edumund Husserl. Sedangkan pada studi sosiologi dengan
menggunakan prinsip-prinsip fenomenologi yang dilakukan pertama oleh; P. Berger dan T. Luckman dalam
buku mereka yang berjudul “The social
Construktion of Reality” (1967). Studi yang kedua dilakukan oleh; George Psathas dan Frances
Waksler di dalam
karya mereka yang berjudul “Essential
Feature of Face to Face Interaktion” (1973).
6.
SUDUT PANDANG TOKOH
FENOMENOLOGI
Sosiologi fenomenologis menurut Moleong
(2002:9) pada
dasarnya sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husserl dan Alfred Schutz.
Pengaruh lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan pada verstehcn, yaitu pengertian
interpretative terhadap pemahaman manusia. Berdasarkan hal tersebut, berikut pemaparan dari
pemikirian tokoh terkait sudut pandang tokoh fenomenologi yakni sebagai
berikut:
6.1. Fenomenologi
Awal : Pemikiran Edmund Husserl
Menurut Bernard Raho (2007:26) pada tahun 1859-1938 seorang filsuf asal Jerman Edmund
Husserl, sering
disebut sebagai Bapak Fenomenologi. Pada sebutan
tersebut memiliki alasan karena banyak pemikiran Husserl yang mempengaruhi ilmu
sosial pada umumnya dan teori fenomenologi pada khususnya. Sedangkan
dari beberapa pokok pemikiran
Edmund Husserl yang berhubungan dengan fenomenologi meliputi pada; 1)
Problem
filosofis mendasar, 2) Ruang
lingkup kesadaran, 3) Kritik
terhadap ilmu pengetahuan, 4) Jalan
keluar yang dianjurkan Husserl, 5) Sumbangan
Husserl untuk fenomenlogi.
6.2. Fenomenologi
Alfred Schutz
Fenomenologi Alfred Schutz (dalam Raho,
2007:133) terkait sumbangannya yang paling besar terletak dalam kemampuannya
untuk memadukan fenomenologi Husserl dengan teori aksi dari Max Weber dan
interaksi simbolik dari Chicago. Perpaduan tersebut menjadi sumber pengembangan
fenomenologi dan pemunculan ethnometodologi. Berikut hubungan Schutz dengan tiga
pemikiran dan arah pemikirannya dalam fenomenologi, yakni analisis Schutz terhadap
Karya Max Weber pertama tentang perbedaan Schutz dari Husserl, kedua kontak dengan
interaksionisme simbolik, dan ketiga fenomenologi Alfred Schutz.
7.
CONTOH-CONTOH SOSIOLOGI
FENOMENOLOGI
7.1. Interaksi
dari Muka ke Muka
Psathas dan Waksler (dalam Raho, 2007:141) mengawali uraian mereka
tentang interaksi dari muka
ke muka dengan asumsi bahwa Interaski tersebut merupakan dasar dari fenomena
yang lebih kompleks dan berskala besar. Karena itu mereka memilih untuk
memusatkan perhatian pada level analisis
yang bersifat individual, khususnya tentang kesadaran. Dan berikut
tiga komponen dasar dari interaksi dari muka ke muka yakni; 1) ciri-ciri actor, 2) ciri-ciri relasi
antar actor, dan 3)
ciri-ciri aksi.
7.2. Konstruksi
Sosial atas Kenyataan
Pembahasan pada point ini, penulis masih dalam reviuw ulang materi yang ada
dan masih dalam revisi. Terimakasih.
8.
DAFTAR PUSTAKA
Bernard Raho, S. (2007). Teori Sosiologi Modern.
Jakarta: Prestasi Pustakarya.
Herdiansyah, H. (2011). Metode Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu
Sosia Dasar. Jakarta: Salemba Humanika.
Moleong, L. J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Sutinah, B. S. (2005). Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif
Pendekatan. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar