Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 November 2017

PENDEKATAN FENOMENOLOGI



PENDEKATAN FENOMENOLOGI
DALAM METODE PENELITIAN SOSIAL

Oleh
Ahmad Jaenudin



1.         PENGERTIAN FENOMENOLOGI
Fenomenologi secara istilah, pertama kali dikemukakan oleh Johann Heinrich Lambert pada tahun 1728-1777, beliau adalah seorang filsuf dari Negara Jerman. Hal ini yang ditulis dalam bukunya Neues Organon pada tahun 1764, hal tersebut ditulisnya tentang ilmu yang tak nyata. Peneliti dalam pandangan fenomenologi menurut Moleong (2002:9), yakni usaha dalam memahami arti peristiwa dan beberapa kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti mereka.
Fenomenologi sendiri merupakan sebuah teori, seperti yang disampaikan oleh Bernard Raho (2007:26), dalam bukunya yang bernaung dibawah paradigma definisi sosial. Fenomenologi yang lebih memfokuskan kenyataan sosial, dan hal tersebut tidak bergantung kepada makna yang diberikan oleh individu. Melainkan pada kesadaran subyektif aktor.


2.         MODEL PERTANYAAN DALAM FENOMENOLOGI
Terkait menyusun pertanyaan pada penelitian model fenomenologi, menurut Herdiansyah (2011:96), bahwa pertanyaan penelitian biasanya diawali dengan kata apa (what) walaupun whay dan how juga penting untuk diajukan dalam rangka mencari alasan (untuk whay) dan untuk mengetahui proses (untuk haw). Kemudian menurut Maustakas (dalam Herdiansyah, 2011:96), menyatakan bahwa dalam model fenomenologi, pertanyaan inti tidak hanya berupa pertanyaan untuk mengetahui alasan dan proses saja, tetapi harus juga berorientasi pada isu yang diangkat.  
Berdasarkan pemaparan tersebut, berikut beberapa point penting yang perlu tercantum dalam pertanyaan penelitian model fenomenologi menurut Herdiansyah (2011:96), yakni sebagai berikut:
1)     Apakah arti yang mungkin muncul dari pengalaman yang dialami?
2)     Apakah tema inti dan konteksnya dari pengalaman yang dialami tersebut?
3)     Struktur universal apa saja yang melibatkan perasaaan dan pikiran mengenai pengalaman yang dialami tersebut?
4)     Tema structural apa saja yang menfasilitasi deskripsi dari pengalaman yang dialami tersebut?


3.         INKUIRI FENOMENOLOGI
Pemparan ini yang membicarakan tentang inkuiri fenomenologi, menurut Moleong (2002:9) yakni inkuiri pada fenomenologi memulai dengan diam, sedangkan diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Mereka berusaha untuk masuk kedalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedimikian rupa, sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.


4.         IMPLIKASI DAN PENDEKATAN FENOMENOLOGI
Persoalan implikasi serta pendekatan pada fenomenologi, dalam hal ini menurut Sutinah (2005:178) mempuyai dua implikasi yakni sebagai berikut:
1)     Untuk mengetahui apa yang dialami orang dan bagaimana ia menafsirkan dunia. Inilah pokok perhatian penyelidikan fenomenologis.
2)     Satu-satunya cara agar kita benar-benar mengetahui apa yang dialami orang lain adalah langsung mengalaminya sendiri. Disinilah pentingnya observasi partisipatif. Akan tetapi, melakukan pengkajian dengan fokus fenomenologis yakni mencapai hakikat pengalaman suatu gejala.


5.         TUJUAN FENOMENOLOGI
Tujuan dari fenomenologi menurut Bernard Raho (2007:125), yakni menganalisis dan melukiskan kehidupan sehari-hari atau dunia kehidupan sebagaimana disadari oleh aktor. Masuknya fenomenologi dalam dunia sosiologi berdasarkan Bernard Raho (2007:126) yakni, melalui karya Alfred Schutz. Kemudian Alfred Shutz sendiri dipengaruhi oleh filsuf Jerman Edumund Husserl. Sedangkan pada studi sosiologi dengan menggunakan prinsip-prinsip fenomenologi yang dilakukan pertama oleh; P. Berger dan T. Luckman dalam buku mereka yang berjudul “The social Construktion of Reality” (1967). Studi yang kedua dilakukan oleh; George Psathas dan Frances Waksler di dalam karya mereka yang berjudul “Essential Feature of Face to Face Interaktion” (1973).


6.         SUDUT PANDANG TOKOH FENOMENOLOGI
Sosiologi fenomenologis menurut Moleong (2002:9) pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husserl dan Alfred Schutz. Pengaruh lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan pada verstehcn, yaitu pengertian interpretative terhadap pemahaman manusia. Berdasarkan hal tersebut, berikut pemaparan dari pemikirian tokoh terkait sudut pandang tokoh fenomenologi yakni sebagai berikut:

6.1.     Fenomenologi Awal : Pemikiran Edmund Husserl
Menurut Bernard Raho (2007:26) pada tahun 1859-1938 seorang filsuf asal Jerman Edmund Husserl, sering disebut sebagai Bapak Fenomenologi. Pada sebutan tersebut memiliki alasan karena banyak pemikiran Husserl yang mempengaruhi ilmu sosial pada umumnya dan teori fenomenologi pada khususnya. Sedangkan dari beberapa pokok pemikiran Edmund Husserl yang berhubungan dengan fenomenologi meliputi pada; 1) Problem filosofis mendasar, 2) Ruang lingkup kesadaran, 3) Kritik terhadap ilmu pengetahuan, 4) Jalan keluar yang dianjurkan Husserl, 5) Sumbangan Husserl untuk fenomenlogi.

6.2.     Fenomenologi Alfred Schutz
Fenomenologi Alfred Schutz (dalam Raho, 2007:133) terkait sumbangannya  yang paling besar terletak dalam kemampuannya untuk memadukan fenomenologi Husserl dengan teori aksi dari Max Weber dan interaksi simbolik dari Chicago. Perpaduan tersebut menjadi sumber pengembangan fenomenologi dan pemunculan ethnometodologi. Berikut hubungan Schutz dengan tiga pemikiran dan arah pemikirannya dalam fenomenologi, yakni analisis Schutz terhadap Karya Max Weber pertama tentang perbedaan Schutz dari Husserl, kedua kontak dengan interaksionisme simbolik, dan ketiga fenomenologi Alfred Schutz.


7.         CONTOH-CONTOH SOSIOLOGI FENOMENOLOGI
7.1.     Interaksi dari Muka ke Muka
Psathas dan Waksler (dalam Raho, 2007:141) mengawali uraian mereka tentang interaksi dari muka ke muka dengan asumsi bahwa Interaski tersebut merupakan dasar dari fenomena yang lebih kompleks dan berskala besar. Karena itu mereka memilih untuk memusatkan perhatian pada  level analisis yang bersifat individual, khususnya tentang kesadaran. Dan berikut tiga komponen dasar dari interaksi dari muka ke muka yakni; 1) ciri-ciri actor, 2) ciri-ciri relasi antar actor, dan 3) ciri-ciri aksi.

7.2.     Konstruksi Sosial atas Kenyataan
Pembahasan pada point ini, penulis masih dalam reviuw ulang materi yang ada dan masih dalam revisi. Terimakasih.




8.         DAFTAR PUSTAKA

Bernard Raho, S. (2007). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustakarya.

Herdiansyah, H. (2011). Metode Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosia Dasar. Jakarta: Salemba Humanika.

Moleong, L. J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sutinah, B. S. (2005). Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROPOSISI