REVIEW BUKU TEORI SOSIOLOGI MODERN :
George Caspar Homans: Teori Pertukaran Sosial
Oleh
Ahmad Jaenudin
1. Pendahuluan
Teori pertukaran sosial berangkat dari asumsi do ut
des, saya memberi supaya engkau memberi. Menurut mereka semua kontak
di antara manusia bertolak dari skema memberi, dan mendapatkan kembali dalam
jumlah yang sama. “All contacts among men rest on the schema of giving
and returning the equivalence” (Wallace & Wolf, 1980
dalam Raho, 2007, hal. 171). Dengan asumsi seperti ini, para pendukung
teori ini menggunakan bahwa ada begitu banyak pertukaran, atau tingkah laku yang
dipertukarkan dalam kehidupan sosial. Dengan demikian pendukung teori ini, berpendapat
bahwa tingkah laku manusia didasarkan pertimbangan untung dan rugi atau cost
and rewards (Raho, 2007, hal. 171).
Skema pemikiran tersebut sudah nampak dalam
karya-karya, dari beberapa ilmuan sosial sebelumnya, seperti George Simmel dan
Brosnilaw Malinowski. Misalnya George Simmel (dalam Raho, 2007, hal.
171), mencurahkan perhatiannya pada motivasi, yang mendorong seseorang
berkontak dengan orang lain. Menurut dia motivasi yang mendorong seseorang
berkontak dengan orang lain, adalah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan, dan
tujuan-tujuan tertentu. Kontak itu terus berlanjut atau timbal-balik, karena
kedua lebih pihak mendapat kepuasan, atau keuntungan dari pertukaran tingkah
laku itu.
Selanjutnya Brosnilaw Malinowski yang
membuat penelitian diantara orang-orang Torbariand, Melanesia berkesimpulan
bahwa pertukaran yang bersifat timbal balik, khususnya dalam bentuk
hadiah-hadiah (Kula Ring) merupakan basis atau dasar kohesi sosial diantara
penduduk Orbariand. Menurut dia, pertukaran seperti itu meningkatkan kesatuan
di dalam masyarakat (Wallace and Wolf, 1980 dalam Raho, 2007, hal.
172). Kendati konsep-konsep tentang pertukaran sosial sudah ada dalam
karya-karya Simmel dan Malinowski, namun orang-orang yang mengembangkan teori
ini di dalam sosiologi kontemporer adalah George Homans, dan Peter
Blau (Raho, 2007, hal. 172). Akan tetapi penulis dalam bagian selanjutnya
lebih menekankan pemaparan berdasarkan dari karya-kayra George Homans.
2. Pembahasan
Dalam mengembangkan teori pertukaran,
Homans (dalam Raho, 2007, hal. 172) mengemukakan beberapa proposisi
untuk menjelaskan tingkah-laku sosial yang paling besar. Menurut dia, tingkah
laku sosial yang paling besar dapat dijelaskan dengan beberapa proposisi dari
pertukaran sosial. Adapun proposisi-proposisi dari Homans adalah sebagai berikut:
2.1. Proposisi
Sukses
Proposisi ini berbunyi: “semakin sering
tindakan seseorang dihargai atau mendapat ganjaran maka semakin besar
kemungkinan orang tersebut melakukan tindakan yang sama”. Tetapi,
Homans (dalam Raho, 2007, hal. 173) memberikan beberapa catatan yang berhubungan dengan proposisi ini
yakni : 1) Perulangan tingkah-laku karena mendapat ganjaran ganjaran ini
tidak bisa berlangsung tanpa batas-batasnya. 2) Semakin pendek jarak waktu antara tindakan dan ganjaran, semakin
besarkemungkinan orang melakukan tindakan yang sama. 3) Ganjaran (reward) yang bersifat tak terduga (seperti keuntungan
dalam judi) akan memancing perulangan tindakan yang sama dibanding dengan
ganjaran (reward) yang bersifat tetap dan teratur.
2.2. Proposisi
Rangsangan atau Stimulus
Proposisi ini berbunyi: “apabila pada masa
lampau ada satu sejumlah stimuli di dalamnya tindakan seseorang mendapat
ganjaran, maka semakin stimulus atau stimuli pada masa lampau itu, semakin
besar pula kemungkinan bahwa orang tersebut akan melakukan tindakan yang sama”.
Misalnya nelayan membuang jala pada laut yang gelap dan mendapatkan banyak ikan
cenderung membuang jala pada bagian laut seperti itu (Raho, 2007, hal.
173).
Homans (dalam Raho, 2007, hal. 174) menjelaskan bahwa keberhasilan menangkap ikan pada laut yang
gelap memberanikan orang itu untuk menangkap ikan pada yang mungkin tidak terlalu
gelap. Bahkan dalam generalisasi yang lebih jauh, keberhasilan manangkap ikan
mungkin memberanikan orang itu untuk keberhasilan dalam bidang lainnya, seperti
bertani atau berdagang. Tetapi dalam hal ini orang tersebut percaya pada satu
kunci (syarat) yang membawa dia kepada keberhasilan.
2.3. Proposisi Nilai
Proposisi ini berbunyi: “semakin tinggi nilai
tindakan seseorang, maka semakin besar kemungkinan orang itu melakukan tindakan
yang sama”. Dalam proposisi ini, Homans sebetulnya memperkenalkan konsep-konsep
ganjaran dan hukuman. Ganjaran (Reward) adalah hal yang diperoleh tingkah laku
positif sedangkan hukuman adalah hal yang diperoleh karena tingkah laku
negatif.
Dalam pengamatanya, Homans (dalam Raho, 2007, hal. 174) memperhatikan bahwa
hukuman bukanlah merupakan cara yang efektif untuk mengubah tingkah-laku
seseorang. Menurut dia, adalah lebih baik kalau tidak memberikan hukuman
apa-apa atas tingkah laku yang tidak diinginkan. Sebaliknya, orang akan
terdorong untuk melakukan sesuatu jika ia mendapatkan ganjaran.
2.4. Proposisi Kejenuhan
Proposisi ini berbunyi: “semakin sering seseorang
mendapat ganjaran pada waktu yang berdekatan, maka semakin kurang ganjaran itu
untuk dia”. Unsur waktu menjadi amat penting di dalam proposisi ini. Ada
hubungan dengan proposisi tadi. Orang umumnya tidak akan lekas jenuh kalau
ganjaran itu diperoleh sesudah waktu yang cukup lama (Raho, 2007, hal.
175).
2.5. Proposisi Persetujuan dan Agresi
Dalam bagian ini ada dua proposisi yang berbeda:
bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran seperti yang diharapkan atau
mendapatkan hukuman yang tidak diharapkannya, maka semakin besar kemungkinan
bahwa dia menjadi marah dan melakukan tindakan yang agresif dan tindakan
agresif itu menjadi bernilai baginya”. Homans memberikan contoh bahwa jika seseorang
tidak mendapatkan nasehat yang dia harapkan dari orang lain itu tidak mendapat
pujian yang dia harapkan maka keduanya akan menjadi marah.
Proposisi kedua lebih bersifat positif :”apabila
seseorang mendapat ganjaran yang diharapkannya, khususnya, ganjaran yang lebih
besar dari pada yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan hukuman yang
diperhitungkannya, maka ia akan menjadi senang; lebih besar kemungkinannya ia
akan melakukan hal-hal yang positif dan hasil dari tingkah laku yang demikian
adalah lebih bernilai baginya”. Misalnya, apabila seseorang mendapatkan nasehat
dari orang lain seperti yang diharapkan dan orang lain seperti yang diharapkan dan orang lain itu
mendapat pujian seperti yang diharapkannya maka keduanya akan menjadi senang
dan besar kemungkinan yang satu menerima nasehat dan lainnya memberikan nasehat (Raho, 2007, hal.
175).
3. Penutup
Demikianlah beberapa proposisi yang dirumuskan oleh
George Homans (dalam Raho, 2007, hal. 176) untuk menjelaskan teori pertukaran sosial. Pada
ahirnya teori Homans melihat aktor sebagai seseorang yang mencari keuntungan.
Tetapi teori Homans tidak bisa menjelaskan fenomena pertukaran itu dalam skala
yang lebih luas. Karena itu, dia mengakui perlunya pengembangan sebuah studi
yang lebih luas. Tetapi dia tetap mengakui bahwa struktur masyarakat dalam
skala lebih luas dapat dipahami kalau orang mengerti secara tepat tingkah laku
sosial yang paling mendasar seperti tertuang di dalam proposisi-proposisinya
itu. Harap Homans itu terwujud dalam teori pertukaran yang dikembangkan oleh Peter
M. Blau.
4. Daftar Bacaan
Bernard Raho, SVD. (2007). Teori Sosiologi Modern. Jakarta:
Prestasi Pustakaraya.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar